h1

Jak Jazz 2008: Afghan

November 30, 2008
Hmm.. Mau nggak mau semua kenal ini anak. Suaranya lumayan juga. Ada variasi di atas jajaran penyanyi Indonesia yang biasanya lebih didominasi perempuan. Dia tampil di ajang Jak Jazz 2008 tanggal 28 November 2008, kemarin malam bersama Ireng Maulan & Friends. Ada lagu Moody’s Mood yang kondang dinyanyikan George Benson bersama Patty Austin dan tentu saja Terima Kasih Cinta. Rasanya penguasaan lekukan Jazz-nya belum oke jadi nggak terlalu mulus. Kadang terasa kalau dia nggak bisa mengimbangi tingkah polah tiupan sax Didi SSS yang suka berlagak tengil di panggung.
But kehadiran Afghan emang ditunggu semua penonton. Ireng Maulana yang bermain apik tetap menarik penonton untuk bergoyang. Tapi tetap aja Afghan yang mereka tunggu. Kelihatannya Ireng tahu kalau penonton mau apa walaupun Andien bernyanyi baik di bagian awal bersama Ireng Maulana & Friends.
Ini foto-foto Afghan. Masih ada beberapa ,tapi cukup ini dulu deh yang di pajang.

h1

Cerita tentang Selembar Upil

November 24, 2008
Mahluk macam dirinya bisa terlahir kapan saja.
Pagi itu Zak pergi kencing sambil menahan kantuk. Dengan berpegangan pada dinding, meja, kursi atau apa saja, dia berjalan sempoyongan ke WC. Dalam keadaan setengah sadar, Zak mesti berjuang untuk menjaga keseimbangan tubuh dan menurunkan kolornya. Tangan kirinya bertopang pada bibir bak air supaya bisa berdiri tegak sedangkan tangan kanannya memegangi kepala burung agar bisa membidik lubang WC dengan jitu. Siapa bilang kencing itu gampang? Burungnya lepas kendali dan air kencingnya muncrat kemana-mana. Sebagian masuk ke WC, sebagian lain masuk ke ember cucian dan sebagian lainnya lagi mengenai kaki.
Dengan jengkel, tangan kanannya menarik kolor ke atas dan tangan kirinya meraih gayung air. Maksud hati mencuci kaki, apa lacur burungnya mancur. Kolornya basah, baunya pun menyengat. Bikin dahi mengernyit. Tuannya semakin gusar karena perangkat kesayangannya mesti ditanggalkan. Padahal masih dibutuhkan karena ada waktu tersisa untuk tidur lagi selama 3 jam.
Sambil berpikir harus berganti apa, Zak menyirami tubuh bawahnya. Dia lupa kalau punya alergi terhadap dingin. Mulutnya bersin berkali-kali. Suaranya meraung panjang. Gemanya terdengar sampai Merauke.
Beberapa detik kemudian, mahluk itu keluar dari pangkal liang hidungnya. Bentuknya berupa lendir. Campuran dari zat cair dan zat padat dengan komposisi tertentu. Mahluk itu bernama ingus. Dia dan teman-teman sejenis, membuat tuannya sulit bernapas. Tapi ada cara untuk mengatasi mereka. Zak membuat letupan angin bertekanan tinggi untuk mendorong mereka keluar dengan suara,”Srot, srot!” Sebagian dari mereka berhasil dihalau kecuali dia yang bergelantungan pada bulu-bulu hidung tuannya.
Akhirnya lubang itu dapat dilalui sedikit udara karena masih terhambat olehnya. Dia sempat bertanya-tanya mengapa harus terlahir kalau kemudian dipaksa keluar. Mungkin kencing yang menciprati tuannya itu bisa menjawab. Kalau bukan karena kencing itu, pasti dia masih tenang di alam roh sana. Tidak dipaksa lahir dan tidak diusir pergi.
Menit demi menit berjalan lambat bersama tuannya yang tidur kembali di ranjang. Liang hidungnya kembali basah karena ada teman-teman yang baru terlahir. Rupanya tuannya tidur tanpa kolor sehingga dia kedinginan lagi. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Zak segera menyelimuti tubuhnya. Mahluk itu lalu bermetamorfosa dari lendir menjadi kerak. Tersapu O2 dan CO2 yang mondar mandir di lubang hidung tuannya. Warnanya berbagai macam. Putih, hijau dan coklat.
Kini dia terlahir lagi dalam bentuk lain. Dulu namanya ingus, sekarang namanya upil. Bentuknya berantakan. Ada bagian yang membukit dan ada bagian lain berupa lembaran tipis. Dengan penampilan fisiknya terakhir, pasti terasa renyah bila dikunyah. Apalagi bila digoreng dengan minyak panas.
Gara-gara terciprat air kencing itulah maka cerita ini menjadi panjang.

±

Zak hendak makan siang Kei di café dekat kantor mereka. Mendadak Zak merasa hidungnya gatal. Mulutnya mengumpul ke tengah sehingga seisi hidungnya saling mendekat. Tepian upil itu menusuk dinding dalam hidung Zak. Ada rasa sakit yang mengejutkan sehingga Kei melihat perubahan air muka Zak.

“Kenapa Zak?”
“Nggak tahu nih. Tiba-tiba hidungku sukar bernapas.”
Si Upil tertawa geli membayangkan wajah tuannya kesusahan. Bagaimana cara mencungkil upil kalau di depannya ada perempuan cantik? Kesempatan paling baik adalah waktu membersihkan gigi sehabis makan. Tangan kiri untuk menutup mulut dengan kertas tisue dan tangan kanan untuk memegang dongkrak gigi, sedangkan jari kelingking masuk ke lubang hidung untuk mencungkil upil. Sempurna.
Sayang sekali. Makanan di piring masih banyak. Steak mereka baru saja datang. Panas dan mengepul.
“Kamu nggak apa-apa kan Zak?”
“Aku baik-baik aja kok, Kei. Tenang aja.”
“Syukur deh. Aku mau ambil salad bar dulu. Mau nggak?”
“Boleh juga.”
Namanya rejeki tidak akan lari kemana. Ketika Kei berdiri dan berjalan ke arah meja salad, telunjuk kanan Zak langsung menancap di hidung. Sialnya upil itu terlalu dalam. Lokasinya jauh di pangkal hidung, di dekat rongga mata. Zak mencoba mendorong upilnya keluar dengan semburan napas. Siapa tahu benda itu mau bergeser sedikit. Kalau sudah begitu jarinya bisa menjangkau upil itu. Selagi dia sibuk menarik dan membuang napas – lebih tepat mendengus-dengus mirip kuda – Kei sudah duduk di kursi kembali. Rupanya dia cuma perlu salad buah dua sendok makan saja.
Upil itu merusak kencan mereka. Begitulah perasaan Zak. Dia kehilangan semangat menikmati wajah Kei. Mau ngobrol salah. Mau makan salah. Mau minum salah. Mau ngupil apa lagi. Zak berteriak-teriak dalam hati. ”Hei, Upil! Badan kamu gede banget. Beratmu berapa kilo sih? Hidungku sakit gara-gara kamu. Mengganggu, tau!”
“Kok kamu nggak makan sih Zak?”
“Masih panas Kei. Tunggu dingin dulu.”
“Dari tadi kamu meringis terus. Pusing atau sakit perut?”
“Anu. Aku ke rest room dulu deh. Mau pipis. Hehehe.”
Di depan Kei, Zak bersikap sopan, bilang pipis dengan desis panjang. Padahal dia biasa bilang kencing. Takut kata kencing bisa bikin Kei punya kesan buruk.
Di belakang ada toilet unisex – cuma satu tapi untuk laki-laki dan perempuan. Sayang pintu itu terkunci dari dalam. Kelihatannya bakal lama pula. Pasti ada yang berak. Di depan wastafel sebelah toilet ada perempuan sedang pake lipstik. Kalau mau ngupil disitu malu juga. Di lihat orang.
Akhirnya Zak kembali ke kursi. Dia mendengus-dengus, memaksa upilnya turun. Menjengkelkan sekali. Masa bodohlah pikirnya. Jari kelingking kiri, satu-satunya jari paling kecil, mendesak cuping melebar. Dapat. Andai upil bisa bicara pasti Zak mendengar suara mengaduh karena tubuhnya mreteli, sebagian tertinggal sedangkan dirinya menempel di kelingking tuannya.
Sekarang Zak bisa menghembus napas lega. Raut wajahnya berubah cerah. Entah karena otak di kepala mendapat pasokan oksigen atau upil kering itu tercerabut. Perjuangan Zak – ngupil sewaktu berjalan dari toilet ke meja makannya sementara di sekeliling juga banyak pengunjung café lainnya – mirip laki-laki yang kebelet kencing di tengah jalan. Berpura-pura cuek, membuka celana, melonggarkan pintu bendungan airnya dan CUR!.
Masalah berikut adalah apa yang harus dilakukan dengan upil di kelingkingnya sedangkan dia sudah duduk di depan Kei. Mana mungkin bawa upil itu seharian. Susah memegang garpu kalau upil brengsek itu menggantung di kelingking.
Gampang! Peperin di bawah meja saja. Dari dulu Zak memang jorok. Dia sering melekatkan atau membuang upilnya ke bawah meja. Entah itu meja belajar, meja makan atau pun meja kantor. Jadi, pasti ada ribuan upil di bawah meja belajar di rumah dan di sekolah; meja makan di rumah dan cafe di Jakarta; meja kantor di perusahaan lama dan sekarang tempat dia bekerja.
Zak menghabiskan waktu dua puluh menit untuk melepas upilnya semenjak dia melakukan serangan pertama tadi.

±

Beberapa hari kemudian Zak datang bersama teman-temannya. Mereka mengatur beberapa meja menjadi satu supaya bisa duduk bersama. Entah disengaja atau tidak, Zak memilih kursi tempat dia makan bersama Kei dulu. Dari situ dia bisa mengamati pengunjung di meja lain dan pemandangan di luar jendela.

Dalam posisi sempurna itu Zak merasa nyaman. Dia bisa ngobrol dengan temannya, makan dengan lahap dan paling penting, ngupil dengan tenang. Dia bersyukur berada dalam gerombolan laki-laki. Kalau saja ada Kei, mungkin jadi lain.
Masalahnya Zak punya kelainan sejak orok. Dia bisa bersin-bersin bila terkena udara atau air dingin. Hidungnya berleleran ingus dan produksi upil bukan main. Kalau sudah begitu teman-temannya sebal karena biasanya dia akan mengorek hidung dengan tekun. Semangatnya mirp orang sedang mencari mata air di gurun pasir. Setelah itu dia membuang upil di bawah meja kerja, jok mobil atau tempat lainnya tanpa rasa bersalah.
“Mau makan apa Zak?” Zak diam saja. Dia sedang asik dengan dirinya sendiri. Kalau ada perokok yang memilih rokok daripada makan maka Zak memilih ngupil. Temannya jengkel melihat tingkahnya. Mereka mesti membangunkan tidur siangnya dengan cara paling kasar. Meneriakkan namanya. Ada apa dengan namanya?
Laki-laki itu dipanggil Zak. Siapapun sepakat bahwa tiga huruf Z, A dan K itu melahirkan kesan unik. Tapi Zak benci dengan asal usul namanya. Orang tua Zak menamai dirinya seperti sebagian orang Jawa memanggil Kacuk pada anak laki-laki atau Bawuk pada anak perempuan, yang sebenarnya menjelaskan jenis kelaminnya. Begitu tahu bayi yang akan lahir berjenis kelamin laki-laki, maka kata zakar terbersit di dalam otak mereka. Bentuknya mudah diingat tapi mereka sadar kata zakar terlalu kasar untuk ditempelkan ke anaknya. Jangan sampai penonton televisi se-Indonesia Raya mendengar kapten tim sepak bola nasional dielu-elukan dengan teriakan “Zakar, Zakar, Zakar!” Mereka memperhalus kata itu menjadi sebuah nama indah yaitu Zakara Mambara.
Lazimnya di dalam keluarga, dia juga punya nama panggilan kesayangan. Ibunya memangkas namanya menjadi Zak. Katanya lebih enak didengar daripada harus bilang, “Zakar sayang. Ayo mimik susu ya.” Ketika beranjak dewasa temannya berkeberatan dengan nama Zak. Katanya, nama itu membohongi publik. Orang jelek tidak layak dipanggil dengan nama bagus. Dipanggil Kara atau Mamba jelek karena tak bermakna sama sekali. Dipanggil Bara pun jelek. Terlalu laki-laki. Bikin cemburu saja. Cuma satu nama yang Pas. Zakar.
Jadi, sekarang gerombolan laki-laki itu berteriak memanggil Zak setelah hitungan ketiga,”Hoi. Zakar!”
“Hah. Gila lu! Apaan sih?”
“Jangan ngupil aja. Mau makan nggak?”
“Mau.”
Zak buru-buru membersih kelingking kirinya. Tahapannya panjang tapi dia melakukan dengan cepat. Pertama, memindahkan upil dari ujung kelingking ke bagian bawah meja. Kedua, menggosok-gosok kelingking dengan jempol supaya sisanya terangkat membentuk butiran-butiran upil. Ketiga, menjentik butiran-butiran upil itu ke bawah meja. Keempat, meyelesaikan dengan mengibaskan tangan kirinya ke celana sebelum mengambil daftar menu yang tergeletak di depannya.

±

Siang berikutnya, Zak dan Kei datang lagi. Bukan karena Zak kehabisan ide tapi Kei memang suka suasana tempat itu. Zak berpendapat kalau dengan Kei tempat manapun memang menyenangkan.
“Mau makan apa Kei?”
“Aku mau ambil salad dulu Zak. Kamu maukan? Aku ambilkan sekalian deh.” Zak hanya menggangguk melihat Kei berdiri dan berjalan ke meja salad. Dia membayang tubuh Kei, menggeliat di pelukannya.

Zak mengenal Kei semenjak dia kecil karena rumah mereka bersebelahan. Dulu Kei benci Zak karena Zak senang mengganggu. Zak suka mengorek hidung dan mengeluarkan upil segede gajah di depan mukanya. Upil itu ditempelkan ke pipi Kei. Di waktu lain, Zak sengaja bersin di depan Kei supaya ingusnya terbang ke baju Kei.
Tapi waktu membuat berubah. Setelah dewasa mereka bertemu di perusahaan yang sama. Zak menarik dan Kei cantik. Dalam hati mereka bersemi rasa suka. Kemudian mereka sering pergi bersama. Untuk makan siang, makan malam, menonton dan sebagainya.
Semenjak bekerja di tempat yang sama ada satu yang belum terungkap. Zak masih suka ngupil. Dia memakai topeng ketika berdua dengan Kei. Menahan kebiasaannya dengan berjuangan mati-matian. Segigih apapun mana bisa Zak menyembunyikan gajah sebesar upil di pelupuk mata?
Peristiwa itu terjadi ketika Zak meminta Kei menjadi kekasihnya. Kei tersenyum menunduk memberi tanda setuju dan membiarkan Zak merengkuh pundaknya. Di bawah lampu kuning café itu, bibir mereka saling menyentuh. Semua begitu menyenangkan sampai pada satu waktu hidung Zak terasa gatal lagi. Kelingking Zak langsung menancap ke lubang hidungnya dan mengail ikan di dalam. Bukankah tangan Zak mengganggu Kei? Tentu saja karena telapak tangan Zak menepis pipi Kei, yang terkejut ketika menemukan ada benda lengket di ujung hidungnya.
“Hiii! Menjijikkan.”
“Maaf Kei. Please.”
“Kamu dari dulu masih sama. Aku pikir sudah berubah. Mana mau aku punya pacar laki-laki macam kamu.”
“Kei. Aku janji deh. Nggak gitu lagi di depan kamu. Sumpah deh.”
“Maksudnya kalo di belakang aku, kamu tetap ngupil?
“Habis harus gimana?”
“Huh!”
Zak menyembah Kei dengan membenturkan dahi ke lantai tujuh kali. Bunyinya persis godam memalu batu gunung. Pada setiap bunyi itu Zak berjanji memenuhi keinginan Kei. Kei pun senang walaupun dia tahu, suatu saat nanti Zak bakal ingkar janji. Kebiasaan yang melekat di kepala semenjak kecil akan sukar dihapus oleh cinta. Pilihan Kei cuma dua, lupakan kalo Zak suka ngupil atau biarkan Zak menikmati hobinya. Mudah sekali.
Kelak Kei menemukan bahwa Zak memang tidak berubah.

±

Suatu hari Zak menikahi Kei. Mereka mendapat dua anak laki-laki. Biasanya sifat anak dekat dengan orang tuanya, yang laki-laki ikut ayah sedangkan yang perempuan ikut ibu. Kedua anak mereka juga punya alergi terhadap dingin. Hidungnya sering beringus. Tangannya sering membongkar upil segar. Bukan berbentuk lembaran tapi bulat-bulat.

Mereka berempat kerap berkunjung ke café tempat Zak dan Kei berkencan. Kebiasaan ke sana rupanya terpelihara sampai anak-anak beranjak besar. Tentu saja mereka semua duduk di meja kenangan Zak dan Kei. Tapi kecuali Kei, meja kenangan itu mendapat kenang-kenangan dari hidung laki-laki.
Bila kamu melihat di bawah meja itu maka ada tumpukan upil yang menggantung mirip sarang tawon. Kamu akan terkejut bagaimana setiap lembar upil ditempel di sana, dari tahun ke tahun, hingga mengeras bagaikan besi.
Café itu kini tersohor sampai keluar negeri. Diberitakan bahwa pada salah satu mejanya menggantung upil dengan berat antara 35 – 50 kg. Bentuknya mirip stalagtit yang menggantung di gua kapur. Katanya, benda itu berasal dari satu keluarga yang senang makan sambil ngupil di meja itu. Setiap pengunjung bisa duduk di dekat meja itu untuk sekedar mengagumi benda langka café itu. Mereka diminta membayar makanan dua kali lipat untuk mendapatkan kursi di dekat meja itu.
Kalau sedang beruntung maka pelayan café akan membuat sebuah pertunjukkan. Dia mempersilahkan pengunjung yang berkocek tebal untuk menikmati hot pot di meja istimewanya. Dengan panas kompor gas di atasnya maka stalagtit itu akan menetes sehingga membentuk stalagmit. Mereka bisa mengabadikan, dari detik ke detik, ketika stalagtit itu mencair dan membentuk sebuah kerucut di bawahnya.

±

h1

Kerasnya Jakarta

November 21, 2008
Banyak pengalaman aneh kalau kita sering naik bis kota atau angkutan umum apapun itu.

Salah satunya mungkin para pengamen atau pedagang asongan yang suka memaksa penumpang untuk mengeluarkan duit. Mungkin pedagang asongan tidak memaksa tapi mereka punya cara agar jualannya dilihat penumpang. Dengan seenaknya barang bawaannya ditaruh di atas pangkuan penumpang dari depan sampai belakang. Nanti pedagang itu mengumpulkan barangnya dari depan sampai belakang. Paling tidak ada 1 atau 2 yang laku. Jualan macam gini mirip gaya salesman dengan metode foot step at the door – sebelum pemilik rumah menutup pintu maka kaki salesman yang sudah satu langkah di dalam rumah mengganjal pintunya. Nggak mungkin ditutup kan?

Beberapa orang yang jualan dengan gaya cari sumbangan juga begitu. Ketika saya tahu dia nggak bakal saya perlukan maka saya enggan membuka pintu pagar rumah saya. Tapi dasar karena dia orang tua dia berkata,”Biarkanlah saya masuk dulu baru nanti saya jelaskan apa maksud saya. Tidak baik membiarkan tamu di jalanan.” Setengah sebal karena dipaksa saya memperlihatkan gerakan mulut saya yang mengunyah dengan mengangkat rahang atas lebih tinggi. Dengan demikian dia tahu saya sedang makan. Walhasil dia yang semula tanya orang tua saya dimana cuma jualan kalender.

Tapi apa yang saya rasakan setelah pertemuan itu? Harga diri saya terinjak-injak hanya karena dipaksa membuka pagar [karena saya tidak asertif menolak] dan dia berhasil masuk ke halaman rumah. Untungnya saya tidak buka pintu rumah.

Keberhasilan itu tidak selalu ada ketika kita mau. Meskipun kejadian di atas terjadi sewaktu saya masih kuliah tapi di jaman SMA saya pernah berhasil mengusir tamu tidak diundang. Sepulang sekolah [SMAGA] saya mendapatkan 2 orang yang katanya mau menyemprot obat demam berdarah di rumah. Biasanya yang kaya gini diatur Ketua RT. Lho kenapa mereka bisa masuk? Saya mengerti gaya mereka menjual. Bilangnya mau memberikan penjelasan ini dan itu. Bilang dari RT lah or dari kelurahan lah.. Maunya saya nabok orang yang nipu begitu.

Kira-kira begini percakapannya..
‘Mas cari siapa?”
‘Oh saya sudah bertemu dengan Ibu’ — maksudnya Bu De saya.
Didalam saya tanya Bu De saya apa keperluan orang-orang itu. Katanya mau semprot obat DB dan nggak enak kalau tidak diterima. Lalu saya keluar berdua adik saya. [kalau sendiri takut kali ya. Hahaha]

‘Mas saya nggak mau rumah ini disemprot’
‘Loh tadi Ibu bilang mau?’
‘Itu kan karena nggak enak. Saya sih nggak mau.
‘Tapi saya mau ketemu dengan pemilik rumah ini.
‘Saya pemilik rumah ini. Jadi saya yang menentukan boleh disemprot atau tidak.’
Akhirnya kedua laki-laki itu pergi. Dia beranjak dengan kasar dan membiarkan pintu pagar saya dibuka dan tidak ditutup kembali. Marah. Biarlah.

Ngelantur ya?

Nah yang namanya pengamen itu macam-macam. Ada yang cuma membunyikan ecrek-ecrek dari botol berisi pasir atau kumpulan tutup botol gepeng dengan poros paku. Kalau digoyangkan berbunyi “Ecrek..ecrek..ecrek..” Tanpa irama tanpa nada. Blas… Nggak ada seninya sama sekali. Wong dia nggak nyanyi kok. Tapi ngider sampai belakang dengan kantong permen bekas untuk mengumpulkan duit 100an dsbnya. Ada saja orang yang mau ngasih. Kalau saya malah bingung. Ini masuk dalam amal apa nggak? Kadang saya merasa ini memanggil untuk ibadah kadang saya putuskan untuk diam saja.

Model pengamen lain ada lagi. Dengan dua seruling 6 lubang dia meniup alat musik kesayangannya. Lagi-lagi tanpa lagu. Dia hanya meniup dengan membuka tutup sekitar 3-4 lubang tanpa pola. Seenaknya saja sehingga nadanya seenaknya juga. Yang mendengar ya dienak-enakin saja. Selesai satu melodi dia menyembah ke segala arah. Berulang kali dan berulang kali. Kalau mau gratis ya gitu itu. Jangan nuntut macam-macam. Emangnya sempat sekolah di YPM?

Itu masih mending. Ada lagi pengamen yang setelah menyanyi berkotbah didepan setiap penumpang. Macam-macam saja yang dia kritik. Misalnya penampilannya yang bagus tapi cuma kasih duit sedikit atau pelit karena gak mau kasih duit. Ada lagi komentar tentang negara kita dan penumpangnya dipaksa kasih pendapat tentang koruptor. Kadang juga dia bertanya apakah dia rela atau tidak memberikan uang ke pengamen itu. Gayanya kasar dan akibatnya penumpang sebal. Tapi apa mau dikata. Kita sering takut kalau tiba-tiba digebuk karena badannya gempal.

Angkutan murah tapi pengap dan not safe.

Ada lagi yang lucu. Ketika saya malas mendengarkan sekelompok pengamen sumbang saya pilih memejamkan mata. Sering saya berpikir tidur itu hak saya. Kalau tidak memberi juga hak saya. Mestinya pengamen juga ngerti dong. Mau kasih atau tidak ya urusan kita sendiri. Repotnya mereka minta dihormati. Kita mesti memberi lambaian tanya untuk menolak memberi.

Dari balik mata setengah meram, saya mengintip tangan pengamen yang mengasongkan ember kecil. Dia menyenggolkan embernya berkali-kali ke pundak saya. Saya diam saja. Tiba-tiba dia berkata marah disertai logat Batak yang kental,”Ah! Pura-pura tidur kau”, sembari memukul kepala saya dengan ember,”Duaggg!”

‘Setan!’ umpat saya dalam hati. Saya melotot sambil berteriak,”Apa lu?” Eh dia balas dengan kalimat yang sama juga. Ah saya pilih diam saja. Memang keparat tapi mau kata apa? Begitulah Jakarta.

Mana ada lagi harga diri? Padahal itu yang dirusak karena teraniaya. Bagaimana pula dengan korban kekerasan yang lebih parah lagi. Entah pembantu yang disiksa atau perempuan yang diperkosa. Semoga kaum yang lemah selalu dilindungi-Nya. Amin

h1

Memaafkan

November 21, 2008
Saya pernah membaca cerita ini beberapa tahun silam di sebuah surat kabar. Mungkin di harian Kompas Minggu. Tapi sekarang ada email yang mengutip cerita ini. Menarik untuk direnungkan bagaimana sebuah kekuatan cinta memberikan maaf bagi pasangannya.

[Ikatkan Sehelai Pita Kuning Untukku]

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia,Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke New York dengan mencuri uang tabungan isterinya. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya – dengan sex, judi dan obat-obatan.

Tahun berlalu dan bisnisnya gagal. Dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Menulis cek palsu untuk menipu uang orang. Akhirnya dia tertangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara selama tiga tahun.

Menjelang akhir masa hukumannya dia merindukan istri, keluarga dan rumahnya.Lalu dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. bagaimana dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya serta berharap masih boleh kembali.

Namun dia juga mengerti mungkin sudah terlambat. Oleh karena itu di akhir suratnya ditulis , “Sayang, engkau tidakperlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelaipita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Di hari pelepasannya dia sangat gelisah. Tidak ada surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak.

Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi.”

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu.

Air mata menetes di matanya. Dia tidak melihat sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai melainkan ada seratus helai pita-pita kuning bergantungan di pohon beringin itu. Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow RibbonAround the Old Oak Tree”, dan ketika album ini dirilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.

Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut?

Mau lihat lirik dan denger lagunya ? Klik http://www.geocities.com/holidaysfun/ribbon.html

h1

Motivasi Dalam Kaleng Coca Cola

November 6, 2008

Sebuah cerita yang menarik tentang 3 kaleng coca cola. Kaleng pertama dijual di supermaket lokal bersama kaleng coca cola lain dengan harga Rp. 4.000. Kaleng kedua ditempatkan di dalam kulkas dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500. Kaleng ketiga dijual di hotel bintang 5 mewah yang baru dikeluarkan ketika ada yang memesan dengan sajian dalam gelas kristal, batu es dan senyum ramah sang pelayan. Harganya Rp. 30.000.

Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut berbeda harga? Kata cerita itu – lingkungan anda mencerminkan harga anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP. Apabila anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri anda, maka anda menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil-kan diri Anda, maka Anda menjadi kerdil. Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA.

Pendapat saya? BUKAN BEGITU.

Kata Robert Kiyosaki [moga-moga nggak salah mensitir] – kalau kita ingin berhasil secara finansial maka kita mesti punya 5 orang yang sukses [saya lupa secara persis bagaimana bunyi teori ini] Mereka akan saling menulari kesuksesan
Bagi bagi saya intinya kita sendiri – yang memang bukan kaleng – harus memilih lingkungan kita. Misalnya kalau kita dalam lingkungan yang membolehkan mencuri maka mengambil benda milik orang lain lumrah saja. Dan jadilah kita pencuri. Masalahnya itu adalah pilihan kita sendiri.
Jadi – kalau kita MEMILIH masuk dalam lingkungan orang sukses maka kita akan terbawa. Kan kita ROCKER JUGA [MANUSIA] bukan kaleng

Mungkin begitu.

h1

Solo in Digital – Palur

November 5, 2008
Mencari sawah di Jakarta bukan perkara mudah. Mungkin harus berjalan ke pinggiran Jakarta dulu baru kemudian menemukan padi yang hijau atau menguning. Kesempatan ber-Lebaran di Solo kemarin saya coba untuk hunting tempat-tempat langka itu. Mulanya mau ke Matesih. Saya yakin disana masih banyak pemandangan yang menyejukkan mata.

Teman saya bilang kalau kita melihat dedaunan yang hijau sambil membaca kalimat Syahadat 2x maka mata kita tidak lekas menua. Tapi akhirnya nyangkut di Palur. Lihat padi di bawah ini. Hehehe.. Cuma kaya gini aja difoto.

Kembang Ilalang ini juga bagus [namanya Ilalang ya?]

 Tapi yang menarik adalah kupu-kupu ini. Dan bunga liar ini juga cantik. Saya gak pernah lihat.

Menyenangkan kok jalan-jalan di sawah. Banyak obyek menarik yang bikin kita kebuka kalau dunia ini emang indah. Kita mesti bersyukur bukan?

h1

Solo in Digital – Pasar Gede

November 5, 2008

This picture taken in Pasar Gede at 3.30 o’clock on Syawal 2. One of my favourites thru my lenses & Nikon digital camera.

h1

Pete – Manfaatnya

Oktober 31, 2008

Diambil dari email nyasar…

Pete itu mengandung 3 macam gula alami yaitu sukrosa, fruktosa dan glukosa yang dikombinasikan dengan serat. Kombinasi ini, ternyata bikin kita jadi sangat bertenaga!

Riset membuktikan dua porsi pete aja.. mampu memberikan tenaga yang cukup untuk melakukan aktivitas berat selama 90 menit. Makanya, tau gak sih kalo makanan ini itu kesukaannya para atlet top!

Check this out!

Depresi
Menurut survei yang dilakukan oleh MIND diantara pasien penderita depresi, banyak orang merasa lebih baik setelah makan pete. Hal ini terjadi karena pete mengandung tryptophan, sejenis protein yang diubah tubuh menjadi serotonin. Inilah yang akan membuat relax, memperbaiki mood dan secara umum membuat seseorang lebih bahagia.

PMS (premenstrual syndrome)
Jika mengalami PMS saat ‘tamu’ datang, kamu ga perlu minum pil ini ataupun itu, cukup atasi dengan makan pete. Vitamin B6 yang dikandung pete mengatur kadar gula darah, yang dapat membantu mood.

Anemia
Dengan kandungan zat besi yang tinggi, pete dapat menstimulasi produksi sel darah merah dan membantu apabila terjadi anemia.

Tekanan darah tinggi
Buah tropis unik ini sangat tinggi kalium, tetapi rendah garam, sehingga sangat sempurna untuk memerangi tekanan darah. Begitu tingginya, sehingga FDA Amerika mengizinkan perkebunan pete untuk melakukan klaim resmi mengenai kemampuan buah ini untuk menurunkan resiko tekanan darah dan stroke.

Kemampuan otak
200 siswa di Twickenham (Middlesex) tertolong dengan mudah melalui ujian pada tahun ini karena memakan pete pada saat sarapan, istirahat, dan makan siang. Riset telah membuktikan bahwa buah dengan kandungan kalium tinggi dapat membantu belajar dengan membantu siswa semakin waspada.

Sembelit
Karena kandungan serat yang tinggi, maka pete akan mempermudah menormalkan kembali aksi pencernaan, membantu mengatasi permasalahan ini tanpa harus kembali ke laksativ.

Obat mabuk
Salah satu cara paling cepat untuk menyembuhkan “penyakit” mabuk adalah milkshake pete, yang dimaniskan dengan madu. Pete akan membantu menenangkan perut dan dengan bantuan madu akan meningkatkan kadar gula darah yang jatuh, sedangkan susu akan menenangkan dan kembali memperbaiki kadar cairan dalam tubuh.

Dan beberapa lainnya…seperti Kekenyangan, Mual di pagi hari, Gigitan nyamuk (gosok bekas gigitan dengan pete), Kegemukan, Luka lambung Mengatur suhu tubuh, Merokok, Stress, Stroke, Caplak(letakkan pete di caplak dengan plester)
Jika dibandingin dengan apel, pete memiliki protein 4 kali lebih banyak, karbohidrat dua kali lebih banyak, tiga kali lipat fosfor, lima kali lipat Vitamin A dan zat besi, dan dua kali lipat jumlah vitamin dan mineral lainnya.
Soal baunya? Hilangkan bau pete dengan makan Jengkol!
h1

LOCUS OF CONTROL – Bagaimana Menyikapi Kesuksesan & Kegagalan

Oktober 22, 2008
Dalam psikologi ada dikenal sebuah konsep tentang bagaimana kita menyikapi sebuah kesuksesan – yang juga mempunyai sisi berseberangan dengan kegagalan. Selalu menarik karena kita akan berbicara bagaimana kemakmuran selalu singgah pada diri seseorang sedangkan kemiskinan berada pada yang itu-itu saja. Saya tidak bermaksud melepas pembahasan agama dalam hal ini. Tapi sekedar mengungkapkan bagaimana umumnya manusia bersikap terhadap sebuah mata uang – kesuksesan dan kegagalan.

Konsep itu disebut LOCUS OF CONTROL. Coba renungkan sejenak definisi berikut:

…refers to a person’s belief about what causes the good or bad results in their life, either in general or in a specific area such as health or academics. It can either be internal (meaning the person believes that they control themself and their life) or external (meaning they believe that their environment, some higher power, or other people control their decisions and their life).

Pusing kan baca tulisan di atas? Intinya kita punya kecenderungan untuk melihat penyebab masalah yang kita hadapi – faktor internal atau eksternal. Kalau orang yang suka ngeles biasanya menyalahkan ah.. gua gagal karena si A nggak mendukung; kalah karena shuttle cocknya jelek semua atau beruntung karena menang tanpa susah payah. Kalau suka introspeksi maka dia akan lihat ..hmm.. rasanya gua mesti belajar lebih giat lagi.

Jadi.. apakah pengendali arah hidup kita ada di luar atau di dalam diri, ternyata adalah pilihan kita sendiri. Tapi.. nggak berarti kita harus pilih salah satunya. Kita bisa punya dua locus of control. Bahkan bisa berubah-ubah. Nggak ada yang salah. Hanya saja untuk sebuah kesuksesan.. menurut saya pribadi emang mesti kerja keras lah. Sisanya DOA. Hehehe.. [Jangan lupa bershalawat]

Saya sitir kalimat-kalimat menarik tentang kegagalan dari Mario Teguh.

h1

Menguji Kadar Bersyukur

Oktober 20, 2008
Kita sering mengeluh karena pekerjaan kita yang membosankan. Padahal kalau kita mau melihat ke bawah banyak hal yang mestinya membuat kita bersyukur. Begitu mudahnya kita mendapat rejeki sementara mata begitu silau dengan hal-hal yang bisa dijangkau oleh orang lain. Rasanya nggak adil bukan?
Kenapa orang lain mudah mendapatkannya sedangkan kita tidak? Berderet kalimat dengan akhiran tanda tanya seakan tak kunjung selesai. Mirip dengan pertanyaan mengapa yang beriman diuji sedangkan yang tidak beriman mendapatkan kemudahan? Dalam satu khutbah di bulan Ramadhan kemarin seorang Ustadz berkata logika itu sederhana sekali sebagaimana halnya mengapa orang yang yang bersekolah diuji sedangkan yang tidak bersekolah tidak diuji. Hmmm…
Coba renungkan apakah kita sudah bersyukur dengan apa yang kita dapat hari ini. Check these pictures out.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.