
Jak Jazz 2008: Afghan
November 30, 2008
Cerita tentang Selembar Upil
November 24, 2008±
Zak hendak makan siang Kei di café dekat kantor mereka. Mendadak Zak merasa hidungnya gatal. Mulutnya mengumpul ke tengah sehingga seisi hidungnya saling mendekat. Tepian upil itu menusuk dinding dalam hidung Zak. Ada rasa sakit yang mengejutkan sehingga Kei melihat perubahan air muka Zak.
“Nggak tahu nih. Tiba-tiba hidungku sukar bernapas.”
“Aku baik-baik aja kok, Kei. Tenang aja.”
“Syukur deh. Aku mau ambil salad bar dulu. Mau nggak?”
“Boleh juga.”
“Kok kamu nggak makan sih Zak?”
“Masih panas Kei. Tunggu dingin dulu.”
“Dari tadi kamu meringis terus. Pusing atau sakit perut?”
“Anu. Aku ke rest room dulu deh. Mau pipis. Hehehe.”
±
Beberapa hari kemudian Zak datang bersama teman-temannya. Mereka mengatur beberapa meja menjadi satu supaya bisa duduk bersama. Entah disengaja atau tidak, Zak memilih kursi tempat dia makan bersama Kei dulu. Dari situ dia bisa mengamati pengunjung di meja lain dan pemandangan di luar jendela.
“Hah. Gila lu! Apaan sih?”
“Jangan ngupil aja. Mau makan nggak?”
“Mau.”
±
Siang berikutnya, Zak dan Kei datang lagi. Bukan karena Zak kehabisan ide tapi Kei memang suka suasana tempat itu. Zak berpendapat kalau dengan Kei tempat manapun memang menyenangkan.
“Mau makan apa Kei?”
“Aku mau ambil salad dulu Zak. Kamu maukan? Aku ambilkan sekalian deh.” Zak hanya menggangguk melihat Kei berdiri dan berjalan ke meja salad. Dia membayang tubuh Kei, menggeliat di pelukannya.
“Maaf Kei. Please.”
“Kamu dari dulu masih sama. Aku pikir sudah berubah. Mana mau aku punya pacar laki-laki macam kamu.”
“Kei. Aku janji deh. Nggak gitu lagi di depan kamu. Sumpah deh.”
“Maksudnya kalo di belakang aku, kamu tetap ngupil?
“Habis harus gimana?”
“Huh!”
Kelak Kei menemukan bahwa Zak memang tidak berubah.
±
Suatu hari Zak menikahi Kei. Mereka mendapat dua anak laki-laki. Biasanya sifat anak dekat dengan orang tuanya, yang laki-laki ikut ayah sedangkan yang perempuan ikut ibu. Kedua anak mereka juga punya alergi terhadap dingin. Hidungnya sering beringus. Tangannya sering membongkar upil segar. Bukan berbentuk lembaran tapi bulat-bulat.
±

Kerasnya Jakarta
November 21, 2008Salah satunya mungkin para pengamen atau pedagang asongan yang suka memaksa penumpang untuk mengeluarkan duit. Mungkin pedagang asongan tidak memaksa tapi mereka punya cara agar jualannya dilihat penumpang. Dengan seenaknya barang bawaannya ditaruh di atas pangkuan penumpang dari depan sampai belakang. Nanti pedagang itu mengumpulkan barangnya dari depan sampai belakang. Paling tidak ada 1 atau 2 yang laku. Jualan macam gini mirip gaya salesman dengan metode foot step at the door – sebelum pemilik rumah menutup pintu maka kaki salesman yang sudah satu langkah di dalam rumah mengganjal pintunya. Nggak mungkin ditutup kan?
Beberapa orang yang jualan dengan gaya cari sumbangan juga begitu. Ketika saya tahu dia nggak bakal saya perlukan maka saya enggan membuka pintu pagar rumah saya. Tapi dasar karena dia orang tua dia berkata,”Biarkanlah saya masuk dulu baru nanti saya jelaskan apa maksud saya. Tidak baik membiarkan tamu di jalanan.” Setengah sebal karena dipaksa saya memperlihatkan gerakan mulut saya yang mengunyah dengan mengangkat rahang atas lebih tinggi. Dengan demikian dia tahu saya sedang makan. Walhasil dia yang semula tanya orang tua saya dimana cuma jualan kalender.
Tapi apa yang saya rasakan setelah pertemuan itu? Harga diri saya terinjak-injak hanya karena dipaksa membuka pagar [karena saya tidak asertif menolak] dan dia berhasil masuk ke halaman rumah. Untungnya saya tidak buka pintu rumah.
Keberhasilan itu tidak selalu ada ketika kita mau. Meskipun kejadian di atas terjadi sewaktu saya masih kuliah tapi di jaman SMA saya pernah berhasil mengusir tamu tidak diundang. Sepulang sekolah [SMAGA] saya mendapatkan 2 orang yang katanya mau menyemprot obat demam berdarah di rumah. Biasanya yang kaya gini diatur Ketua RT. Lho kenapa mereka bisa masuk? Saya mengerti gaya mereka menjual. Bilangnya mau memberikan penjelasan ini dan itu. Bilang dari RT lah or dari kelurahan lah.. Maunya saya nabok orang yang nipu begitu.
Kira-kira begini percakapannya..
‘Mas cari siapa?”
‘Oh saya sudah bertemu dengan Ibu’ — maksudnya Bu De saya.
Didalam saya tanya Bu De saya apa keperluan orang-orang itu. Katanya mau semprot obat DB dan nggak enak kalau tidak diterima. Lalu saya keluar berdua adik saya. [kalau sendiri takut kali ya. Hahaha]
‘Mas saya nggak mau rumah ini disemprot’
‘Loh tadi Ibu bilang mau?’
‘Itu kan karena nggak enak. Saya sih nggak mau.
‘Tapi saya mau ketemu dengan pemilik rumah ini.
‘Saya pemilik rumah ini. Jadi saya yang menentukan boleh disemprot atau tidak.’
Akhirnya kedua laki-laki itu pergi. Dia beranjak dengan kasar dan membiarkan pintu pagar saya dibuka dan tidak ditutup kembali. Marah. Biarlah.
Ngelantur ya?
Nah yang namanya pengamen itu macam-macam. Ada yang cuma membunyikan ecrek-ecrek dari botol berisi pasir atau kumpulan tutup botol gepeng dengan poros paku. Kalau digoyangkan berbunyi “Ecrek..ecrek..ecrek..” Tanpa irama tanpa nada. Blas… Nggak ada seninya sama sekali. Wong dia nggak nyanyi kok. Tapi ngider sampai belakang dengan kantong permen bekas untuk mengumpulkan duit 100an dsbnya. Ada saja orang yang mau ngasih. Kalau saya malah bingung. Ini masuk dalam amal apa nggak? Kadang saya merasa ini memanggil untuk ibadah kadang saya putuskan untuk diam saja.
Model pengamen lain ada lagi. Dengan dua seruling 6 lubang dia meniup alat musik kesayangannya. Lagi-lagi tanpa lagu. Dia hanya meniup dengan membuka tutup sekitar 3-4 lubang tanpa pola. Seenaknya saja sehingga nadanya seenaknya juga. Yang mendengar ya dienak-enakin saja. Selesai satu melodi dia menyembah ke segala arah. Berulang kali dan berulang kali. Kalau mau gratis ya gitu itu. Jangan nuntut macam-macam. Emangnya sempat sekolah di YPM?
Itu masih mending. Ada lagi pengamen yang setelah menyanyi berkotbah didepan setiap penumpang. Macam-macam saja yang dia kritik. Misalnya penampilannya yang bagus tapi cuma kasih duit sedikit atau pelit karena gak mau kasih duit. Ada lagi komentar tentang negara kita dan penumpangnya dipaksa kasih pendapat tentang koruptor. Kadang juga dia bertanya apakah dia rela atau tidak memberikan uang ke pengamen itu. Gayanya kasar dan akibatnya penumpang sebal. Tapi apa mau dikata. Kita sering takut kalau tiba-tiba digebuk karena badannya gempal.
Angkutan murah tapi pengap dan not safe.
Ada lagi yang lucu. Ketika saya malas mendengarkan sekelompok pengamen sumbang saya pilih memejamkan mata. Sering saya berpikir tidur itu hak saya. Kalau tidak memberi juga hak saya. Mestinya pengamen juga ngerti dong. Mau kasih atau tidak ya urusan kita sendiri. Repotnya mereka minta dihormati. Kita mesti memberi lambaian tanya untuk menolak memberi.
Dari balik mata setengah meram, saya mengintip tangan pengamen yang mengasongkan ember kecil. Dia menyenggolkan embernya berkali-kali ke pundak saya. Saya diam saja. Tiba-tiba dia berkata marah disertai logat Batak yang kental,”Ah! Pura-pura tidur kau”, sembari memukul kepala saya dengan ember,”Duaggg!”
‘Setan!’ umpat saya dalam hati. Saya melotot sambil berteriak,”Apa lu?” Eh dia balas dengan kalimat yang sama juga. Ah saya pilih diam saja. Memang keparat tapi mau kata apa? Begitulah Jakarta.
Mana ada lagi harga diri? Padahal itu yang dirusak karena teraniaya. Bagaimana pula dengan korban kekerasan yang lebih parah lagi. Entah pembantu yang disiksa atau perempuan yang diperkosa. Semoga kaum yang lemah selalu dilindungi-Nya. Amin

Memaafkan
November 21, 2008[Ikatkan Sehelai Pita Kuning Untukku]
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia,Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke New York dengan mencuri uang tabungan isterinya. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya – dengan sex, judi dan obat-obatan.
Tahun berlalu dan bisnisnya gagal. Dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Menulis cek palsu untuk menipu uang orang. Akhirnya dia tertangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara selama tiga tahun.
Menjelang akhir masa hukumannya dia merindukan istri, keluarga dan rumahnya.Lalu dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. bagaimana dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya serta berharap masih boleh kembali.
Namun dia juga mengerti mungkin sudah terlambat. Oleh karena itu di akhir suratnya ditulis , “Sayang, engkau tidakperlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelaipita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”
Di hari pelepasannya dia sangat gelisah. Tidak ada surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak.
Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi.”
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu.
Air mata menetes di matanya. Dia tidak melihat sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai melainkan ada seratus helai pita-pita kuning bergantungan di pohon beringin itu. Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow RibbonAround the Old Oak Tree”, dan ketika album ini dirilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.
Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut?
Mau lihat lirik dan denger lagunya ? Klik http://www.geocities.com/holidaysfun/ribbon.html

Motivasi Dalam Kaleng Coca Cola
November 6, 2008Sebuah cerita yang menarik tentang 3 kaleng coca cola. Kaleng pertama dijual di supermaket lokal bersama kaleng coca cola lain dengan harga Rp. 4.000. Kaleng kedua ditempatkan di dalam kulkas dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500. Kaleng ketiga dijual di hotel bintang 5 mewah yang baru dikeluarkan ketika ada yang memesan dengan sajian dalam gelas kristal, batu es dan senyum ramah sang pelayan. Harganya Rp. 30.000.
Pendapat saya? BUKAN BEGITU.
Mungkin begitu.

Solo in Digital – Palur
November 5, 2008Teman saya bilang kalau kita melihat dedaunan yang hijau sambil membaca kalimat Syahadat 2x maka mata kita tidak lekas menua. Tapi akhirnya nyangkut di Palur. Lihat padi di bawah ini. Hehehe.. Cuma kaya gini aja difoto.
Kembang Ilalang ini juga bagus [namanya Ilalang ya?]
Tapi yang menarik adalah kupu-kupu ini. Dan bunga liar ini juga cantik. Saya gak pernah lihat.

Menyenangkan kok jalan-jalan di sawah. Banyak obyek menarik yang bikin kita kebuka kalau dunia ini emang indah. Kita mesti bersyukur bukan?

Solo in Digital – Pasar Gede
November 5, 2008
Pete – Manfaatnya
Oktober 31, 2008Diambil dari email nyasar…
Riset membuktikan dua porsi pete aja.. mampu memberikan tenaga yang cukup untuk melakukan aktivitas berat selama 90 menit. Makanya, tau gak sih kalo makanan ini itu kesukaannya para atlet top!
Check this out!
Depresi
Menurut survei yang dilakukan oleh MIND diantara pasien penderita depresi, banyak orang merasa lebih baik setelah makan pete. Hal ini terjadi karena pete mengandung tryptophan, sejenis protein yang diubah tubuh menjadi serotonin. Inilah yang akan membuat relax, memperbaiki mood dan secara umum membuat seseorang lebih bahagia.
PMS (premenstrual syndrome)
Jika mengalami PMS saat ‘tamu’ datang, kamu ga perlu minum pil ini ataupun itu, cukup atasi dengan makan pete. Vitamin B6 yang dikandung pete mengatur kadar gula darah, yang dapat membantu mood.
Anemia
Dengan kandungan zat besi yang tinggi, pete dapat menstimulasi produksi sel darah merah dan membantu apabila terjadi anemia.
Tekanan darah tinggi
Buah tropis unik ini sangat tinggi kalium, tetapi rendah garam, sehingga sangat sempurna untuk memerangi tekanan darah. Begitu tingginya, sehingga FDA Amerika mengizinkan perkebunan pete untuk melakukan klaim resmi mengenai kemampuan buah ini untuk menurunkan resiko tekanan darah dan stroke.
Kemampuan otak
200 siswa di Twickenham (Middlesex) tertolong dengan mudah melalui ujian pada tahun ini karena memakan pete pada saat sarapan, istirahat, dan makan siang. Riset telah membuktikan bahwa buah dengan kandungan kalium tinggi dapat membantu belajar dengan membantu siswa semakin waspada.
Sembelit
Karena kandungan serat yang tinggi, maka pete akan mempermudah menormalkan kembali aksi pencernaan, membantu mengatasi permasalahan ini tanpa harus kembali ke laksativ.
Obat mabuk
Salah satu cara paling cepat untuk menyembuhkan “penyakit” mabuk adalah milkshake pete, yang dimaniskan dengan madu. Pete akan membantu menenangkan perut dan dengan bantuan madu akan meningkatkan kadar gula darah yang jatuh, sedangkan susu akan menenangkan dan kembali memperbaiki kadar cairan dalam tubuh.

LOCUS OF CONTROL – Bagaimana Menyikapi Kesuksesan & Kegagalan
Oktober 22, 2008Konsep itu disebut LOCUS OF CONTROL. Coba renungkan sejenak definisi berikut:
…refers to a person’s belief about what causes the good or bad results in their life, either in general or in a specific area such as health or academics. It can either be internal (meaning the person believes that they control themself and their life) or external (meaning they believe that their environment, some higher power, or other people control their decisions and their life).
Pusing kan baca tulisan di atas? Intinya kita punya kecenderungan untuk melihat penyebab masalah yang kita hadapi – faktor internal atau eksternal. Kalau orang yang suka ngeles biasanya menyalahkan ah.. gua gagal karena si A nggak mendukung; kalah karena shuttle cocknya jelek semua atau beruntung karena menang tanpa susah payah. Kalau suka introspeksi maka dia akan lihat ..hmm.. rasanya gua mesti belajar lebih giat lagi.
Jadi.. apakah pengendali arah hidup kita ada di luar atau di dalam diri, ternyata adalah pilihan kita sendiri. Tapi.. nggak berarti kita harus pilih salah satunya. Kita bisa punya dua locus of control. Bahkan bisa berubah-ubah. Nggak ada yang salah. Hanya saja untuk sebuah kesuksesan.. menurut saya pribadi emang mesti kerja keras lah. Sisanya DOA. Hehehe.. [Jangan lupa bershalawat]
Saya sitir kalimat-kalimat menarik tentang kegagalan dari Mario Teguh.







