
Kerasnya Jakarta
November 21, 2008Salah satunya mungkin para pengamen atau pedagang asongan yang suka memaksa penumpang untuk mengeluarkan duit. Mungkin pedagang asongan tidak memaksa tapi mereka punya cara agar jualannya dilihat penumpang. Dengan seenaknya barang bawaannya ditaruh di atas pangkuan penumpang dari depan sampai belakang. Nanti pedagang itu mengumpulkan barangnya dari depan sampai belakang. Paling tidak ada 1 atau 2 yang laku. Jualan macam gini mirip gaya salesman dengan metode foot step at the door – sebelum pemilik rumah menutup pintu maka kaki salesman yang sudah satu langkah di dalam rumah mengganjal pintunya. Nggak mungkin ditutup kan?
Beberapa orang yang jualan dengan gaya cari sumbangan juga begitu. Ketika saya tahu dia nggak bakal saya perlukan maka saya enggan membuka pintu pagar rumah saya. Tapi dasar karena dia orang tua dia berkata,”Biarkanlah saya masuk dulu baru nanti saya jelaskan apa maksud saya. Tidak baik membiarkan tamu di jalanan.” Setengah sebal karena dipaksa saya memperlihatkan gerakan mulut saya yang mengunyah dengan mengangkat rahang atas lebih tinggi. Dengan demikian dia tahu saya sedang makan. Walhasil dia yang semula tanya orang tua saya dimana cuma jualan kalender.
Tapi apa yang saya rasakan setelah pertemuan itu? Harga diri saya terinjak-injak hanya karena dipaksa membuka pagar [karena saya tidak asertif menolak] dan dia berhasil masuk ke halaman rumah. Untungnya saya tidak buka pintu rumah.
Keberhasilan itu tidak selalu ada ketika kita mau. Meskipun kejadian di atas terjadi sewaktu saya masih kuliah tapi di jaman SMA saya pernah berhasil mengusir tamu tidak diundang. Sepulang sekolah [SMAGA] saya mendapatkan 2 orang yang katanya mau menyemprot obat demam berdarah di rumah. Biasanya yang kaya gini diatur Ketua RT. Lho kenapa mereka bisa masuk? Saya mengerti gaya mereka menjual. Bilangnya mau memberikan penjelasan ini dan itu. Bilang dari RT lah or dari kelurahan lah.. Maunya saya nabok orang yang nipu begitu.
Kira-kira begini percakapannya..
‘Mas cari siapa?”
‘Oh saya sudah bertemu dengan Ibu’ — maksudnya Bu De saya.
Didalam saya tanya Bu De saya apa keperluan orang-orang itu. Katanya mau semprot obat DB dan nggak enak kalau tidak diterima. Lalu saya keluar berdua adik saya. [kalau sendiri takut kali ya. Hahaha]
‘Mas saya nggak mau rumah ini disemprot’
‘Loh tadi Ibu bilang mau?’
‘Itu kan karena nggak enak. Saya sih nggak mau.
‘Tapi saya mau ketemu dengan pemilik rumah ini.
‘Saya pemilik rumah ini. Jadi saya yang menentukan boleh disemprot atau tidak.’
Akhirnya kedua laki-laki itu pergi. Dia beranjak dengan kasar dan membiarkan pintu pagar saya dibuka dan tidak ditutup kembali. Marah. Biarlah.
Ngelantur ya?
Nah yang namanya pengamen itu macam-macam. Ada yang cuma membunyikan ecrek-ecrek dari botol berisi pasir atau kumpulan tutup botol gepeng dengan poros paku. Kalau digoyangkan berbunyi “Ecrek..ecrek..ecrek..” Tanpa irama tanpa nada. Blas… Nggak ada seninya sama sekali. Wong dia nggak nyanyi kok. Tapi ngider sampai belakang dengan kantong permen bekas untuk mengumpulkan duit 100an dsbnya. Ada saja orang yang mau ngasih. Kalau saya malah bingung. Ini masuk dalam amal apa nggak? Kadang saya merasa ini memanggil untuk ibadah kadang saya putuskan untuk diam saja.
Model pengamen lain ada lagi. Dengan dua seruling 6 lubang dia meniup alat musik kesayangannya. Lagi-lagi tanpa lagu. Dia hanya meniup dengan membuka tutup sekitar 3-4 lubang tanpa pola. Seenaknya saja sehingga nadanya seenaknya juga. Yang mendengar ya dienak-enakin saja. Selesai satu melodi dia menyembah ke segala arah. Berulang kali dan berulang kali. Kalau mau gratis ya gitu itu. Jangan nuntut macam-macam. Emangnya sempat sekolah di YPM?
Itu masih mending. Ada lagi pengamen yang setelah menyanyi berkotbah didepan setiap penumpang. Macam-macam saja yang dia kritik. Misalnya penampilannya yang bagus tapi cuma kasih duit sedikit atau pelit karena gak mau kasih duit. Ada lagi komentar tentang negara kita dan penumpangnya dipaksa kasih pendapat tentang koruptor. Kadang juga dia bertanya apakah dia rela atau tidak memberikan uang ke pengamen itu. Gayanya kasar dan akibatnya penumpang sebal. Tapi apa mau dikata. Kita sering takut kalau tiba-tiba digebuk karena badannya gempal.
Angkutan murah tapi pengap dan not safe.
Ada lagi yang lucu. Ketika saya malas mendengarkan sekelompok pengamen sumbang saya pilih memejamkan mata. Sering saya berpikir tidur itu hak saya. Kalau tidak memberi juga hak saya. Mestinya pengamen juga ngerti dong. Mau kasih atau tidak ya urusan kita sendiri. Repotnya mereka minta dihormati. Kita mesti memberi lambaian tanya untuk menolak memberi.
Dari balik mata setengah meram, saya mengintip tangan pengamen yang mengasongkan ember kecil. Dia menyenggolkan embernya berkali-kali ke pundak saya. Saya diam saja. Tiba-tiba dia berkata marah disertai logat Batak yang kental,”Ah! Pura-pura tidur kau”, sembari memukul kepala saya dengan ember,”Duaggg!”
‘Setan!’ umpat saya dalam hati. Saya melotot sambil berteriak,”Apa lu?” Eh dia balas dengan kalimat yang sama juga. Ah saya pilih diam saja. Memang keparat tapi mau kata apa? Begitulah Jakarta.
Mana ada lagi harga diri? Padahal itu yang dirusak karena teraniaya. Bagaimana pula dengan korban kekerasan yang lebih parah lagi. Entah pembantu yang disiksa atau perempuan yang diperkosa. Semoga kaum yang lemah selalu dilindungi-Nya. Amin