
Memaafkan
November 21, 2008[Ikatkan Sehelai Pita Kuning Untukku]
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia,Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke New York dengan mencuri uang tabungan isterinya. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya – dengan sex, judi dan obat-obatan.
Tahun berlalu dan bisnisnya gagal. Dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Menulis cek palsu untuk menipu uang orang. Akhirnya dia tertangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara selama tiga tahun.
Menjelang akhir masa hukumannya dia merindukan istri, keluarga dan rumahnya.Lalu dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. bagaimana dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya serta berharap masih boleh kembali.
Namun dia juga mengerti mungkin sudah terlambat. Oleh karena itu di akhir suratnya ditulis , “Sayang, engkau tidakperlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelaipita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”
Di hari pelepasannya dia sangat gelisah. Tidak ada surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak.
Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi.”
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu.
Air mata menetes di matanya. Dia tidak melihat sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai melainkan ada seratus helai pita-pita kuning bergantungan di pohon beringin itu. Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow RibbonAround the Old Oak Tree”, dan ketika album ini dirilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.
Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut?
Mau lihat lirik dan denger lagunya ? Klik http://www.geocities.com/holidaysfun/ribbon.html