h1

Cerita tentang Selembar Upil

November 24, 2008
Mahluk macam dirinya bisa terlahir kapan saja.
Pagi itu Zak pergi kencing sambil menahan kantuk. Dengan berpegangan pada dinding, meja, kursi atau apa saja, dia berjalan sempoyongan ke WC. Dalam keadaan setengah sadar, Zak mesti berjuang untuk menjaga keseimbangan tubuh dan menurunkan kolornya. Tangan kirinya bertopang pada bibir bak air supaya bisa berdiri tegak sedangkan tangan kanannya memegangi kepala burung agar bisa membidik lubang WC dengan jitu. Siapa bilang kencing itu gampang? Burungnya lepas kendali dan air kencingnya muncrat kemana-mana. Sebagian masuk ke WC, sebagian lain masuk ke ember cucian dan sebagian lainnya lagi mengenai kaki.
Dengan jengkel, tangan kanannya menarik kolor ke atas dan tangan kirinya meraih gayung air. Maksud hati mencuci kaki, apa lacur burungnya mancur. Kolornya basah, baunya pun menyengat. Bikin dahi mengernyit. Tuannya semakin gusar karena perangkat kesayangannya mesti ditanggalkan. Padahal masih dibutuhkan karena ada waktu tersisa untuk tidur lagi selama 3 jam.
Sambil berpikir harus berganti apa, Zak menyirami tubuh bawahnya. Dia lupa kalau punya alergi terhadap dingin. Mulutnya bersin berkali-kali. Suaranya meraung panjang. Gemanya terdengar sampai Merauke.
Beberapa detik kemudian, mahluk itu keluar dari pangkal liang hidungnya. Bentuknya berupa lendir. Campuran dari zat cair dan zat padat dengan komposisi tertentu. Mahluk itu bernama ingus. Dia dan teman-teman sejenis, membuat tuannya sulit bernapas. Tapi ada cara untuk mengatasi mereka. Zak membuat letupan angin bertekanan tinggi untuk mendorong mereka keluar dengan suara,”Srot, srot!” Sebagian dari mereka berhasil dihalau kecuali dia yang bergelantungan pada bulu-bulu hidung tuannya.
Akhirnya lubang itu dapat dilalui sedikit udara karena masih terhambat olehnya. Dia sempat bertanya-tanya mengapa harus terlahir kalau kemudian dipaksa keluar. Mungkin kencing yang menciprati tuannya itu bisa menjawab. Kalau bukan karena kencing itu, pasti dia masih tenang di alam roh sana. Tidak dipaksa lahir dan tidak diusir pergi.
Menit demi menit berjalan lambat bersama tuannya yang tidur kembali di ranjang. Liang hidungnya kembali basah karena ada teman-teman yang baru terlahir. Rupanya tuannya tidur tanpa kolor sehingga dia kedinginan lagi. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Zak segera menyelimuti tubuhnya. Mahluk itu lalu bermetamorfosa dari lendir menjadi kerak. Tersapu O2 dan CO2 yang mondar mandir di lubang hidung tuannya. Warnanya berbagai macam. Putih, hijau dan coklat.
Kini dia terlahir lagi dalam bentuk lain. Dulu namanya ingus, sekarang namanya upil. Bentuknya berantakan. Ada bagian yang membukit dan ada bagian lain berupa lembaran tipis. Dengan penampilan fisiknya terakhir, pasti terasa renyah bila dikunyah. Apalagi bila digoreng dengan minyak panas.
Gara-gara terciprat air kencing itulah maka cerita ini menjadi panjang.

±

Zak hendak makan siang Kei di café dekat kantor mereka. Mendadak Zak merasa hidungnya gatal. Mulutnya mengumpul ke tengah sehingga seisi hidungnya saling mendekat. Tepian upil itu menusuk dinding dalam hidung Zak. Ada rasa sakit yang mengejutkan sehingga Kei melihat perubahan air muka Zak.

“Kenapa Zak?”
“Nggak tahu nih. Tiba-tiba hidungku sukar bernapas.”
Si Upil tertawa geli membayangkan wajah tuannya kesusahan. Bagaimana cara mencungkil upil kalau di depannya ada perempuan cantik? Kesempatan paling baik adalah waktu membersihkan gigi sehabis makan. Tangan kiri untuk menutup mulut dengan kertas tisue dan tangan kanan untuk memegang dongkrak gigi, sedangkan jari kelingking masuk ke lubang hidung untuk mencungkil upil. Sempurna.
Sayang sekali. Makanan di piring masih banyak. Steak mereka baru saja datang. Panas dan mengepul.
“Kamu nggak apa-apa kan Zak?”
“Aku baik-baik aja kok, Kei. Tenang aja.”
“Syukur deh. Aku mau ambil salad bar dulu. Mau nggak?”
“Boleh juga.”
Namanya rejeki tidak akan lari kemana. Ketika Kei berdiri dan berjalan ke arah meja salad, telunjuk kanan Zak langsung menancap di hidung. Sialnya upil itu terlalu dalam. Lokasinya jauh di pangkal hidung, di dekat rongga mata. Zak mencoba mendorong upilnya keluar dengan semburan napas. Siapa tahu benda itu mau bergeser sedikit. Kalau sudah begitu jarinya bisa menjangkau upil itu. Selagi dia sibuk menarik dan membuang napas – lebih tepat mendengus-dengus mirip kuda – Kei sudah duduk di kursi kembali. Rupanya dia cuma perlu salad buah dua sendok makan saja.
Upil itu merusak kencan mereka. Begitulah perasaan Zak. Dia kehilangan semangat menikmati wajah Kei. Mau ngobrol salah. Mau makan salah. Mau minum salah. Mau ngupil apa lagi. Zak berteriak-teriak dalam hati. ”Hei, Upil! Badan kamu gede banget. Beratmu berapa kilo sih? Hidungku sakit gara-gara kamu. Mengganggu, tau!”
“Kok kamu nggak makan sih Zak?”
“Masih panas Kei. Tunggu dingin dulu.”
“Dari tadi kamu meringis terus. Pusing atau sakit perut?”
“Anu. Aku ke rest room dulu deh. Mau pipis. Hehehe.”
Di depan Kei, Zak bersikap sopan, bilang pipis dengan desis panjang. Padahal dia biasa bilang kencing. Takut kata kencing bisa bikin Kei punya kesan buruk.
Di belakang ada toilet unisex – cuma satu tapi untuk laki-laki dan perempuan. Sayang pintu itu terkunci dari dalam. Kelihatannya bakal lama pula. Pasti ada yang berak. Di depan wastafel sebelah toilet ada perempuan sedang pake lipstik. Kalau mau ngupil disitu malu juga. Di lihat orang.
Akhirnya Zak kembali ke kursi. Dia mendengus-dengus, memaksa upilnya turun. Menjengkelkan sekali. Masa bodohlah pikirnya. Jari kelingking kiri, satu-satunya jari paling kecil, mendesak cuping melebar. Dapat. Andai upil bisa bicara pasti Zak mendengar suara mengaduh karena tubuhnya mreteli, sebagian tertinggal sedangkan dirinya menempel di kelingking tuannya.
Sekarang Zak bisa menghembus napas lega. Raut wajahnya berubah cerah. Entah karena otak di kepala mendapat pasokan oksigen atau upil kering itu tercerabut. Perjuangan Zak – ngupil sewaktu berjalan dari toilet ke meja makannya sementara di sekeliling juga banyak pengunjung café lainnya – mirip laki-laki yang kebelet kencing di tengah jalan. Berpura-pura cuek, membuka celana, melonggarkan pintu bendungan airnya dan CUR!.
Masalah berikut adalah apa yang harus dilakukan dengan upil di kelingkingnya sedangkan dia sudah duduk di depan Kei. Mana mungkin bawa upil itu seharian. Susah memegang garpu kalau upil brengsek itu menggantung di kelingking.
Gampang! Peperin di bawah meja saja. Dari dulu Zak memang jorok. Dia sering melekatkan atau membuang upilnya ke bawah meja. Entah itu meja belajar, meja makan atau pun meja kantor. Jadi, pasti ada ribuan upil di bawah meja belajar di rumah dan di sekolah; meja makan di rumah dan cafe di Jakarta; meja kantor di perusahaan lama dan sekarang tempat dia bekerja.
Zak menghabiskan waktu dua puluh menit untuk melepas upilnya semenjak dia melakukan serangan pertama tadi.

±

Beberapa hari kemudian Zak datang bersama teman-temannya. Mereka mengatur beberapa meja menjadi satu supaya bisa duduk bersama. Entah disengaja atau tidak, Zak memilih kursi tempat dia makan bersama Kei dulu. Dari situ dia bisa mengamati pengunjung di meja lain dan pemandangan di luar jendela.

Dalam posisi sempurna itu Zak merasa nyaman. Dia bisa ngobrol dengan temannya, makan dengan lahap dan paling penting, ngupil dengan tenang. Dia bersyukur berada dalam gerombolan laki-laki. Kalau saja ada Kei, mungkin jadi lain.
Masalahnya Zak punya kelainan sejak orok. Dia bisa bersin-bersin bila terkena udara atau air dingin. Hidungnya berleleran ingus dan produksi upil bukan main. Kalau sudah begitu teman-temannya sebal karena biasanya dia akan mengorek hidung dengan tekun. Semangatnya mirp orang sedang mencari mata air di gurun pasir. Setelah itu dia membuang upil di bawah meja kerja, jok mobil atau tempat lainnya tanpa rasa bersalah.
“Mau makan apa Zak?” Zak diam saja. Dia sedang asik dengan dirinya sendiri. Kalau ada perokok yang memilih rokok daripada makan maka Zak memilih ngupil. Temannya jengkel melihat tingkahnya. Mereka mesti membangunkan tidur siangnya dengan cara paling kasar. Meneriakkan namanya. Ada apa dengan namanya?
Laki-laki itu dipanggil Zak. Siapapun sepakat bahwa tiga huruf Z, A dan K itu melahirkan kesan unik. Tapi Zak benci dengan asal usul namanya. Orang tua Zak menamai dirinya seperti sebagian orang Jawa memanggil Kacuk pada anak laki-laki atau Bawuk pada anak perempuan, yang sebenarnya menjelaskan jenis kelaminnya. Begitu tahu bayi yang akan lahir berjenis kelamin laki-laki, maka kata zakar terbersit di dalam otak mereka. Bentuknya mudah diingat tapi mereka sadar kata zakar terlalu kasar untuk ditempelkan ke anaknya. Jangan sampai penonton televisi se-Indonesia Raya mendengar kapten tim sepak bola nasional dielu-elukan dengan teriakan “Zakar, Zakar, Zakar!” Mereka memperhalus kata itu menjadi sebuah nama indah yaitu Zakara Mambara.
Lazimnya di dalam keluarga, dia juga punya nama panggilan kesayangan. Ibunya memangkas namanya menjadi Zak. Katanya lebih enak didengar daripada harus bilang, “Zakar sayang. Ayo mimik susu ya.” Ketika beranjak dewasa temannya berkeberatan dengan nama Zak. Katanya, nama itu membohongi publik. Orang jelek tidak layak dipanggil dengan nama bagus. Dipanggil Kara atau Mamba jelek karena tak bermakna sama sekali. Dipanggil Bara pun jelek. Terlalu laki-laki. Bikin cemburu saja. Cuma satu nama yang Pas. Zakar.
Jadi, sekarang gerombolan laki-laki itu berteriak memanggil Zak setelah hitungan ketiga,”Hoi. Zakar!”
“Hah. Gila lu! Apaan sih?”
“Jangan ngupil aja. Mau makan nggak?”
“Mau.”
Zak buru-buru membersih kelingking kirinya. Tahapannya panjang tapi dia melakukan dengan cepat. Pertama, memindahkan upil dari ujung kelingking ke bagian bawah meja. Kedua, menggosok-gosok kelingking dengan jempol supaya sisanya terangkat membentuk butiran-butiran upil. Ketiga, menjentik butiran-butiran upil itu ke bawah meja. Keempat, meyelesaikan dengan mengibaskan tangan kirinya ke celana sebelum mengambil daftar menu yang tergeletak di depannya.

±

Siang berikutnya, Zak dan Kei datang lagi. Bukan karena Zak kehabisan ide tapi Kei memang suka suasana tempat itu. Zak berpendapat kalau dengan Kei tempat manapun memang menyenangkan.
“Mau makan apa Kei?”
“Aku mau ambil salad dulu Zak. Kamu maukan? Aku ambilkan sekalian deh.” Zak hanya menggangguk melihat Kei berdiri dan berjalan ke meja salad. Dia membayang tubuh Kei, menggeliat di pelukannya.

Zak mengenal Kei semenjak dia kecil karena rumah mereka bersebelahan. Dulu Kei benci Zak karena Zak senang mengganggu. Zak suka mengorek hidung dan mengeluarkan upil segede gajah di depan mukanya. Upil itu ditempelkan ke pipi Kei. Di waktu lain, Zak sengaja bersin di depan Kei supaya ingusnya terbang ke baju Kei.
Tapi waktu membuat berubah. Setelah dewasa mereka bertemu di perusahaan yang sama. Zak menarik dan Kei cantik. Dalam hati mereka bersemi rasa suka. Kemudian mereka sering pergi bersama. Untuk makan siang, makan malam, menonton dan sebagainya.
Semenjak bekerja di tempat yang sama ada satu yang belum terungkap. Zak masih suka ngupil. Dia memakai topeng ketika berdua dengan Kei. Menahan kebiasaannya dengan berjuangan mati-matian. Segigih apapun mana bisa Zak menyembunyikan gajah sebesar upil di pelupuk mata?
Peristiwa itu terjadi ketika Zak meminta Kei menjadi kekasihnya. Kei tersenyum menunduk memberi tanda setuju dan membiarkan Zak merengkuh pundaknya. Di bawah lampu kuning café itu, bibir mereka saling menyentuh. Semua begitu menyenangkan sampai pada satu waktu hidung Zak terasa gatal lagi. Kelingking Zak langsung menancap ke lubang hidungnya dan mengail ikan di dalam. Bukankah tangan Zak mengganggu Kei? Tentu saja karena telapak tangan Zak menepis pipi Kei, yang terkejut ketika menemukan ada benda lengket di ujung hidungnya.
“Hiii! Menjijikkan.”
“Maaf Kei. Please.”
“Kamu dari dulu masih sama. Aku pikir sudah berubah. Mana mau aku punya pacar laki-laki macam kamu.”
“Kei. Aku janji deh. Nggak gitu lagi di depan kamu. Sumpah deh.”
“Maksudnya kalo di belakang aku, kamu tetap ngupil?
“Habis harus gimana?”
“Huh!”
Zak menyembah Kei dengan membenturkan dahi ke lantai tujuh kali. Bunyinya persis godam memalu batu gunung. Pada setiap bunyi itu Zak berjanji memenuhi keinginan Kei. Kei pun senang walaupun dia tahu, suatu saat nanti Zak bakal ingkar janji. Kebiasaan yang melekat di kepala semenjak kecil akan sukar dihapus oleh cinta. Pilihan Kei cuma dua, lupakan kalo Zak suka ngupil atau biarkan Zak menikmati hobinya. Mudah sekali.
Kelak Kei menemukan bahwa Zak memang tidak berubah.

±

Suatu hari Zak menikahi Kei. Mereka mendapat dua anak laki-laki. Biasanya sifat anak dekat dengan orang tuanya, yang laki-laki ikut ayah sedangkan yang perempuan ikut ibu. Kedua anak mereka juga punya alergi terhadap dingin. Hidungnya sering beringus. Tangannya sering membongkar upil segar. Bukan berbentuk lembaran tapi bulat-bulat.

Mereka berempat kerap berkunjung ke café tempat Zak dan Kei berkencan. Kebiasaan ke sana rupanya terpelihara sampai anak-anak beranjak besar. Tentu saja mereka semua duduk di meja kenangan Zak dan Kei. Tapi kecuali Kei, meja kenangan itu mendapat kenang-kenangan dari hidung laki-laki.
Bila kamu melihat di bawah meja itu maka ada tumpukan upil yang menggantung mirip sarang tawon. Kamu akan terkejut bagaimana setiap lembar upil ditempel di sana, dari tahun ke tahun, hingga mengeras bagaikan besi.
Café itu kini tersohor sampai keluar negeri. Diberitakan bahwa pada salah satu mejanya menggantung upil dengan berat antara 35 – 50 kg. Bentuknya mirip stalagtit yang menggantung di gua kapur. Katanya, benda itu berasal dari satu keluarga yang senang makan sambil ngupil di meja itu. Setiap pengunjung bisa duduk di dekat meja itu untuk sekedar mengagumi benda langka café itu. Mereka diminta membayar makanan dua kali lipat untuk mendapatkan kursi di dekat meja itu.
Kalau sedang beruntung maka pelayan café akan membuat sebuah pertunjukkan. Dia mempersilahkan pengunjung yang berkocek tebal untuk menikmati hot pot di meja istimewanya. Dengan panas kompor gas di atasnya maka stalagtit itu akan menetes sehingga membentuk stalagmit. Mereka bisa mengabadikan, dari detik ke detik, ketika stalagtit itu mencair dan membentuk sebuah kerucut di bawahnya.

±

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.